cerita tentang suasana lebaran
Pagi itu, suasana terasa berbeda. Udara sejuk menyapa, dan gema takbir masih terdengar dari kejauhan. Hari yang dinanti akhirnya tiba—Hari Lebaran.
Saya bangun lebih awal dari biasanya. Ia mengenakan baju baru yang sudah disiapkan sejak malam sebelumnya. Setelah salat Id bersama keluarga, ia pulang dengan hati yang hangat.
Di rumah, tradisi saling bermaafan dimulai. saya menundukkan kepala di hadapan kedua orang tuanya.
“Maafkan Decla ya, Bu, Pak, kalau selama ini banyak salah,” ucapnya pelan.
Ibunya tersenyum dan memeluknya erat. “Iya, Nak. Ibu juga minta maaf.”
Suasana haru berubah menjadi penuh kebahagiaan saat keluarga besar mulai berdatangan. Meja makan dipenuhi ketupat, opor ayam, dan kue-kue khas Lebaran. Tawa dan cerita mengisi rumah sepanjang hari.
Namun, bagi saya, Lebaran bukan hanya tentang makanan enak atau baju baru. Lebaran adalah tentang memaafkan, mempererat silaturahmi, dan mensyukuri kebersamaan.
Di sore hari, saya duduk di teras rumah sambil tersenyum. Ia merasa damai. Lebaran kali ini mengajarkannya bahwa kebahagiaan sederhana bisa datang dari hati yang saling memaafkan.